Seluk Beluk Kota Bawah Tanah Beijing

kota bawah tanah beijing
Sumber: scott sherrill - mix (flickr) / Referensi: amusingplanet.com

Akhir 1950-an, hubungan antara dua negara komunis terbesar – Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Uni Soviet terlihat semakin memburuk akibat perbedaan ideologi politik, dimana tampak seolah-olah akan terjadi konflik besar.

Perseteruan ini juga menimbulkan asumsi bahwa bakal ada penggunaan senjata nuklir secara masif.

Sekitar tahun 1969, di tengah meningkatnya ketegangan, Mao Zedong (Ketua Mao) selaku pimpinan RRT memerintahkan rakyatnya untuk menggali terowongan di bawah setiap rumah mereka sebagai tempat berlindung dari serangan udara oleh Soviet.

75 kota terbesar di negara tersebut, telah membuat tempat perlindungan yang (apabila di total) mampu menampung 60 persen populasi.

Begitupula dengan Beijing, kurang lebih ada 300.000 orang di kerahkan setiap harinya untuk menggali sekitar 10.000 hingga 20.000 tempat perlindungan dari ancaman bom.

Sebagian besar rakyat RRT, termasuk pria berbadan sehat hingga anak – anak sekolah, turut ambil bagian dalam upaya ini. Dinding – dinding bangunan (bahkan situs sejarah), materialnya pun tak luput dari kanibalisasi demi memasok bahan konstruksi pembangunan bunker bawah tanah.

Namun demikian, semua usaha itu berakhir sia – sia. Ketua Mao meninggal pada tahun 1976 dan penggantinya, Deng Xiaoping, membatalkan semua kebijakan garis keras Mao yang mendukung reformasi ekonomi. Perpecahan RRT – Soviet tahun 1950 / 60-an pun seakan telah kehilangan kepentingan politiknya.

Tempat Perlindungan Menjadi Kota Bawah Tanah

Nah, tak ingin kawasan tersebut terbengkalai, Kantor Bagian Pertahanan Sipil milik pemerintah mengambil langkah untuk mengubahnya menjadi lahan komersil (kota bawah tanah).

Setelah keputusan ini di keluarkan, sebagian besar bangunan setidaknya telah beralih fungsi menjadi:

Akomodasi / persewaan, supermarket, bioskop, restoran, klinik, sekolah, pabrik, gudang, lahan budidaya jamur, sampai arena seluncur es.

Pemerintah sendiri masih menganggap tempat perlindungan sebagai persyaratan penting. Berdampak di tahun 1996, lahirlah Undang – Undang Pertahanan Udara Sipil yang mewajibkan untuk membuat bunker di bawah setiap bangunan atau rumah baru.

UU ini juga masih menekankan bahwa tempat perlindungan juga boleh di manfaatkan untuk pembangunan ekonomi saat masa damai.

Hal itu pulalah yang menjadi pemicu berkembang pesatnya, pemanfaatan lahan bawah tanah menjadi kawasan komersil oleh perusahaan swasta. Sebagaimana kebanyakan orang tahu, pengelolaan oleh sebuah instansi atau perusahaan swasta, cenderung rumit dan melibatkan sejumlah tengkulak.

Baca juga:  Sinopsis Memories of The Alhambra Episode 01 - 16 (2018)

Sistem kerjanya:

Perusahaan swasta menyewakan tempat perlindungan tersebut menjadi sebuah hunian atau lapak kepada penduduk sekitar, sampai pada akhirnya di sewakan lagi untuk warga imigran atau dari luar kota.

Di perkirakan ada 1 juta lebih penduduk Beijing, tinggal di ruang bawah tanah yang kurang nyaman itu, lantaran harga sewa lebih murah daripada menyewa apartemen.

Warga setempat menyebutnya suku tikus atau shuzu. Ironisnya lagi, mayoritas penghuni adalah imigran muda yang berasal dari pedesaan, sengaja datang ke kota untuk mencari peluang lebih baik.

liu jing

jing ranming

chen laxiu
Sumber: sim chi yin

Para penghuni percaya bahwa tempat perlindungan / bunker bawah tanah hanyalah fase transisi dari kehidupan mereka sampai tiba saatnya memperoleh kondisi finansial yang baik untuk menyewa kamar dengan jendela dan sinar matahari.

Wei Kuan, seorang salesman asuransi, mengatakan bahwa dia melakukan itu karena ia ingin menghemat uang untuk kebutuhan lain, seperti membeli mobil.

wei kuan

“Banyak kolega saya hidup di atas tanah, tetapi saya pikir itu terlalu nyaman. tempat ini memaksa saya untuk bekerja lebih keras,” ucap Wei Kuan kepada koresponden Al Jazeera.

Tahun 2010, pemerintah kota Beijing mengumumkan bahwa penggunaan tempat perlindungan di bawah perumahan, menjadi ilegal pada akhir 2012. Ini tentu dengan alasan akan bahaya keselamatan, seperti risiko kebakaran atau banjir.

guo xiaolong

duan shuilang dan liu xinger

chang wanle
Sumber: sim chi yin